Articles

BUKUKU: KUBINGKAI ARSITEK MENJADI SHIDDIQ

In karya on Mei 14, 2009 by mappaturi

cover jpeg

PENDAHULUAN

Menjadi Arsitek, insya Allah bagi beliau-beliau yang benar-benar telah berdedikasi sebagai seorang arsitek, entah sebagai guru besar, ataupun sebagai profesional, dimata saya, terlihat melewatinya dengan sangat mudah.
Ide penulisan ini lahir berdasarkan pengalaman yang saya jalani selama 2.7 tahun berkecimpung langsung di dunia kearsitekturan dengan menjadi perancang/perencana dan pemborong bangunan, dengan proyek yang alhamdulillah telah berhasil kami selesaikan sebanyak kurang lebih 60 proyek berskala menengah ke bawah. Perjuangan yang cukup berat, dengan godaan dan cobaan untuk menyimpang dari syariah islam yang cukup besar, membuat saya merasa wajib membaginya ke pembaca sebagai peringatan ataupun wacana, utamanya bagi sarjana-sarjana arsitektur yang juga ingin membuka usaha arsitektur sendiri. Sampaikanlah walaupun hanya satu ayat…Meskipun sampai sekarang saya masih belum dapat dikatakan sebagai seorang arsitek.
Bagi saya, beratnya cobaan dan godaan selama menjadi arsitek di proyek desain dan konstruksi, membuat saya merasa perlu untuk memperkuat pengetahuan akan syariah Islam sebagai bingkai/barrier agar mampu mengatasi/melalui semua cobaan yang ada selama berarsitektur dan tetap berada dalam jalur yang islami.
Sebelum berbicara terlalu jauh, terlebih dahulu saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kesemua Bapak dan Ibu Arsitek, apabila dalam tulisan ini terdapat kata-kata yang menyinggung ataupun menunjukkan ketidak mampuan saya mengulas akan arsitektur, semata-mata memang karena saya masih sangat awam di dunia kearsitekturan. Namun meskipun demikian, saya memohon dukungannya. Rasanya inilah saat yang tepat bagi saya untuk mulai menguraikan bagaimana membingkai diri sebagai seorang arsitek yang mukmin terhadap semua godaan yang ada.
Buku ini, awalnya saya mulai dengan judul ”Susahnya Menjadi Arsitek yang Shiddiq”. Namun setelah lama merenung, saya berfikir bila menggunakan judul tersebut, adik-adik lulusan SMA mungkin akan takut masuk ke arsitektur. Padahal saya tidak menginginkan itu terjadi. Karena di arsitektur lah mereka dapat diberi keistimewaan untuk memberikan konstribusi terbesar pada kehidupan orang lain. Seorang arsitek memiliki potensi yang besar untuk menggiring orang ke hal yang baik ataupun buruk sesuai apa yang diinginkan sang arsitek melalui tarikan garis tangannya (disain gambar yang kemudian diaplikasikan jadi bangunan). Kemudian saya merubah judulnya menjadi ”Membingkai Arsitek menjadi Shiddiq”.
Mengapa hanya shiddiq? Memang harusnya yang paling tepat dan ingin saya gunakan adalah Arsitek Mukmin. Sehingga dalam semua pola pikir, gerak dan tingkah lakunya menunjukkan keimanannya kepada Allah SWT. Namun rasanya terlalu berat bagi saya bila harus menggunakan judul tersebut, karena saya sendiri masih jauh dari sebutan mukmin, apalagi untuk mengajak orang lain. Akhirnya saya hanya membatasi pada shiddiq, sebagai langkah awal untuk mencapai keimanan yang lebih tinggi. Ya Rasulullah, terangkan tentang Islam dan aku tidak perlu lagi bertanya-tanya kepada orang lain. Nabi Saw menjawab, “Katakan: ‘Aku beriman kepada Allah lalu bersikaplah lurus (jujur)’.” (HR. Muslim)
Shiddiq berarti benar, jujur dan lurus (Thaufik, 2005). Shiddiq, dalam arsitektur saya implementasikan sebagai berikut: ”benar” berarti semua pola gerak dan tingkah lakunya benar sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits; ”Jujur” berarti desain dan pengamplikasiannya mengandung nilai kejujuran yang tinggi. Sedangkan ”lurus” berarti seorang arsitek, harus benar-benar lurus kepada tujuannya. Jangan sampai arsitek mengenyampingkan tujuan utamanya demi sebuah kenikmatan sesaat. Jangan sampai demi mengejar setoran, dalam mendesain kita hanya memikirkan estetika, agar gambar cepat selesai dan lupa akan fungsi-fungsi yang berkaitan dengan kemanusiaan. Juga lupa akan makna yang ingin dicapai dari setiap desain.
Ketakutan terbesar saya dalam menulis buku ini adalah akan banyak bercerita mengenai godaaan dan ujian dalam arsitektur. Bisa jadi keburukan yang saya cerita, berkaitan dengan orang lain dan melukai perasaan orang/arsitek tersebut. Hal ini menyebabkan saya jadi cukup lama menyelesaikan buku ini. Apalagi mengingat ceramah yang sering saya dengar, Bila menceritakan orang, apabila cerita kita benar disebut ghibah dan bila ternyata cerita kita salah menjadi fitnah. Untuk menghindari semua itu akhirnya saya memutuskan untuk berbicara mengenai diri saya sendiri saja. Dengan demikian saya juga memohon maaf bila dalam buku ini terlalu banyak kata-kata ”saya”, yang tujuannya hanya untuk menghindari praduga ke orang lain. Meskipun sebenarnya semua yang saya cerita bukan didasarkan pada praduga, tapi kesaksian yang benar. wallahu A’lam.
Gambaran singkat mengenai buku ini, saya uraikan sebagai berikut: Bab1, akan mengulas sedikit tentang apa dan bagaimana arsitek dan arsitektur, dilihat dari potensinya untuk menciptakan kemaslahatan atau kehancuran. Pada bab 2, saya langsung memilih topik ”Sarjana Arsitek dalam Langkah Awal”. Saya memilih topik ini sebagai pokok bahasan kedua karena saya melihat momen ini yang paling perlu untuk diarahkan dulu dibandingkan momen lainnya. Momen tersebut adalah penentuan sistem pekerjaan yang hendak diambil seorang Sarjana Arsitektur. Pemilihan pekerjaan yang salah, dapat berakibat pada terbentuknya arsitek untuk menciptakan kerusakan. Namun bila dari awal diarahkan, insya Allah kelak dapat dibentuk arsitek-arsitek yang shiddiq dan berahlakulkarimah.
Pada Bab ke 3, saya menguraikan mengenai cobaan yang dihadapi arsitek berdasarkan pengalaman yang saya rasakan, yang saya padukan dengan data-data pustaka. Pemilihan ini menjadi momen berikutnya yang perlu untuk dibenahi, untuk membentuk mental arsitek yang shiddiq. Momen ke 3 ini sudah sangat susah dan berat untuk melakukan perubahan. Karena semua sudah menjadi satu dengan diri para arsitek-arsitek. Namun meskipun susah, saya coba menggambarkan apa yang saya alami. Bab ke empat saya kaitkan dengan pemecahan untuk ujian yang diterima pada bab ke 3. Pada bab ke 4 ini, semua pola pandang dari Al-Qur’an dan hadits yang telah dan masih saya coba untuk implementasikan ke dalam upaya pemecahan masalah-masalah yang ada. Dengan berpegang pada Al-Qur’an dan hadits, saya sangat yakin kita dapat melakukan pembenahan dalam dunia kearsitekturan, yang insya Allah akan saya mulai dari diri saya pribadi. Bab ke 5 berbicara mengenai dunia pendidikan. Saya tempatkan di belakang karena bagian ini saya anggap lebih mudah melakukan perubahan dibandingkan momen-momen sebelumnya. Di dunia perkuliahan, calon arsitek masih berada dalam pengawasan si pendidik hingga menyelesaikan kuliahnya. Meskipun sebenarnya tetap susah karena tujuannya untuk merubah sikap seseorang. Namun di sinilah peluang awal untuk menanamkan pola pikir yang dapat mengarahkan pada terbentuknya bingkai arsitektur yang shiddiq pada diri mereka.

2 Tanggapan to “BUKUKU: KUBINGKAI ARSITEK MENJADI SHIDDIQ”

  1. sangat menarik pak, salam kenal, sy mhs ars asli malang (rmh di sengkaling-tapi tinggal di dinoyo), tapi saya kul di bandung (ceritanya panjang, hehe), kapan2 pengen ketemu bapak😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: