Articles

MEDINAH 1

In Di Tanah Haram on Agustus 23, 2009 by mappaturi

Kami tiba di Madinah pada sekitar jam 13.00 waktu setempat. Saya menginap di hotel AL- HARAM MADINAH, dimana di depan hotel tempat saya menginap, dan disekitarnya sedang berlangsung pembangunan hotel juga. Kesempatan ini kemudian saya manfaatkan untuk melihat sewaktu-waktu proses pembangunan di sana. Cuma karena waktunya singkat, jadi yang saya sempat tahu juga singkat…he2…

Di madinah, kayaknya semua hotel yang dibangun sekitar Mesjid Nabawi menggunakan loster sebagai pengganti batubata. Bila bukan loster, yang digunakan adalah batako. Intinya adalah bahan dengan sisi dalam yang berongga. (lihat penjelasan saya secara sains di jurnal)

27052009687

pada gambar di samping ini terlihat loster yang cukup banyak sebagai bahan bangunan pengganti batu bata

Jika melihat dari temperatur rata-rata di daerah arab yang cukup tinggi, apalagi melihat fungsi bangunan sebagai hotel, dengan tinggi bangunan yang menjulang sehingga memungkinkan radiasi langsung menerpa bangunan di hampir semua sisinya, diperlukan dinding yang cukup kuat untuk menahan panas agar lebih lama masuk ke dalam zone living. Hal ini diantisipasi dengan menggunakan loster, kemudian ditutup aspal dan akhirnya dilapisi marmer. (bila ingin lebih jelasnya, nanti cari jurnal saya aja, sudah saya tulis semuanya di jurnal).

Tapi ada hal yang kurang baik, sewaktu kita keluar dari hotel (dengan temperatur yang nyaman karena menggunakan AC) entah menuju mesjid untuk shalat (utamanya di jam 11.00- 19.00 waktu sana (magribnya jam 19.00)) atau sekedar berbelanja, meskipun posisi kita masih di koridor hotel, tapi panas yang menyentuh, utamanya yang terasa di pipi itu rasanya seperti berada di belakang knalpot mobil truk. Awalnya saya pikir ini terjadi karena di depannya ada jalan dan ada mobil, tapi setelah saya analisa dikit2, intensitas mobil yang lewat, sangat-sangat sedikit, tapi kok panasnya sangat tinggi. Kemudian akhirnya saya tahu ini terjadi karena saya berada diantara bangunan-bangunan tinggi, yang karena telah didesain sedemikian rupa untuk meminimalis panas yang masuk ke interior, akhirnya panas-panas tersebut kemudian dipantulkan dan mengumpul di antara bangunan-bangunan tinggi satu dengan lainnya.

Ada hal-hal positif dari pengetahuan tentang modifikasi facade sehingga mampu menahan panas radiasi (berjuta watt) namun ada juga hal negatif, dimana zona antara bangunan-bangunan yang menjulang tinggi menjadi sangat panas. Padahal zona2 tersebut juga menjadi area manusia. Hal ini menjadi pelajaran pertama bagi kita, agar sewaktu mendesain, untuk tidak hanya memfokuskan pemikiran desain pada bangunan, namun juga harus memikirkan dampak bagi lingkungan sekitar. Karena sebaik-baik bangunan yang kita bangun adalah yang memberikan manfaat bagi semua, bukan hanya bagi penggunanya saja. “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: